Jelaskan pandangan saudara tentang
kontribusi agama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa!
JAWAB
:
Secara naluriah manusia tidak dapat hidup secara
individual. Sifat sosial pada hakikatnya adalah anugerah yang diberikan oleh
Allah SWT agar manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik. Dalam faktanya
manusia memiliki banyak perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya,
di samping tentunya sejumlah persamaan. Perbedaan tersebut kalau tidak dikelola
dengan baik tentu akan menimbulkan konflik dan perpecahan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dari kenyataan tersebut perlu dicari sebuah cara untuk dapat
mewujudkan persatuan dan kesatuan. Pendekatan terbaik untuk melakukan tersebut
adalah melalui agama. Secara normatif agama Islam lebih khusus Al-quran banyak
memberi tuntunan dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat
dosa dan permusuhan [Al-Mâ`idah/5:2]
Islam melarang perpecahan dan berkelompok-kelompok
yang masing-masing berbangga dengan golongannya. Persatuan yang dikehendaki
dalam agama Islam adalah kesatuan dalam akidah, dan berpegang teguh kepada
Al-Qur`an dan Sunnah. Persatuan yang dimaksud bukan sekedar persatuan badan
atau perkumpulan, tetapi lebih ditekankan kepada persatuan hati dalam berakidah
dan menjalani hidup ini sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah.
Dalam mengajak manusia kepada persatuan dan berpegang teguh kepada agama
Allâh itu wajib ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena tidak mungkin
manusia bersatu tanpa melarang mereka dari perbuatan syirik, bid’ah, maksiat
dan penyimpangan lainnya. Jadi persatuan yang dikehendaki dalam agama Islam
adalah persatuan dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Sebagaimana firman Allâh SWT :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allâh, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allâh kepadamu ketika kamu
dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allâh mempersatukan hatimu, sehingga
dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada
di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah,
Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” [Ali ‘Imrân/3:103]
Di antara prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Al-quran untuk mewujudkan
persatuan dan kesatuan bangsa adalah prinsip persamaan, persatuan dan
tolong-menolong. Jelaskan maksud masing-masing prinsip tersebut!
Prinsip Persamaan yang diajarkan
Al-Qur’an
Persamaan yang diajarkan Islam adalah persamaan dalam bentuk yang paling
hakiki dan sempurna. Islam mengajarkan bahwa semua manusia dari segi harkat dan
martabatnya adalah sama di hadapan Tuhan. Tidak ada perbedaan antara manusia
yang satu dan lainnya kecuali dalam taqwanya kepada Tuhan.
Di dalam al-Qur’an ada sejumlah ayat yang juga menjelaskan persamaan
antar manusia.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.[Surah
An-Nisa ayat 1]
Dengan demikian, pada hakekatnya, manusia itu adalah “satu keluarga”.
Proses penciptaan yang “seragam” itu merupakan bukti bahwa pada dasarnya semua
manusia adalah sama. Karena itu, manusia memiliki kedudukan yang sama.
Prinsip Persatuan yang diajarkan
Al-Qur’an
Al-Qur’an mengajarkan bahwa Persatuan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari eksistensi manusia. Sejak umat pertama tercipta dan menghuni
dunia, saat itu pula keinginan untuk bersatu muncul. Manusia, dengan tujuan
untuk melangsungkan kehidupan serta mengurangi berbagai kesulitan, saling
membantu antara satu dengan yang lainnya.
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa salah satu tugas kenabian adalah
meluruskan perselisihan yang terjadi di tengah umat serta mengembalikannya
kepada seruan Al-Qur’an.
Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa dengan persatuan, umat Islam akan
mencapai kemenangan serta kemuliaan. Selain itu, masih banyak sisi-sisi lainnya
yang dijelaskan dalam Al-Quran. Dengan terciptanya persatuan maka kemenangan
dan kemuliaan umat Islam akan tercipta sebagaimana yang digambarkan dalam
Al-Quran. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan
persatuan.
Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 213:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah umat
yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi,
sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang
benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah
didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka
Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal
yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi
petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Prinsip Tolong Menolong yang
diajarkan Al-Qur’an
Manusia adalah makhluk sosial, dan tidak akan mungkin dapat hidup
sendiri tanpa bantuan pihak lain. Karena itu manusia diharapkan untuk bisa
saling tolong-menolong untuk menujang berkehidupan bermasyarakat, terutama
tolong menolong dalam kebaikan.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Maai'dah ayat 2:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan
haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang
qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali
kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Musyawarah adalah salah satu cara yang
sangat dianjurkan oleh agama Islam dalam memecahkan masalah yang timbul dalam
masyarakat. Bagaimana pandangan Islam tentang musyawarah dan apa kaitannya
dengan usaha mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa?
Pengertian musyarawah menurut
istilah
Musyawarah
ialah bertukar fikiran atau berbincang antara dua orang atau lebih dalam
menghadapi hal-hal yang dibenarkan oleh syariat sesuai dengan adab-adab,
cara-cara yang syar’i untuk memperoleh hasil yang baik dan benar yang akan
menjadi tindakan bersama, seseorang atau satu kelompok.
Pertumbuhan
dan perkembangan musyawarah Islam sangat cepat, seperti contoh pemungutan suara
dilakukan secara langsung kemudian demokrasi itupun berkembang sesuai zaman dan
tempat, ruang dan waktu.
Allah
dan Rasulnya tidak mengikat kita dengan salah satu sistem demokrasi yang ada, karena
sistem ini akan berkembang dan terus berubah. Sebagai bahan perbandingan, bahwa
Rasullullah SAW dalam bermusyawarah dengan para sahabat yaitu Abubakar, Umar
Bin Ibn Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Bin Abi Thalib
Dengan
demikian, karena Islam tidak mengikat dengan salah satu sistem demokrasi maka
masing-masing masyarakat Muslim bebas memilih sistem apa yang paling sesuai
dengan masyarakatnya.
Jadi
dalam hal ini, musyawarah yang dibuat oleh manusia, untuk bermusyawarah dalam
system pemerintahannya dengan dirinya sendiri, sedangkan musyawarah dalam Islam
adalah tukar pendapat antara orang-orang yang mempunyai pemikiran yang cerdas
dari ahlul halli wal aqdi, untuk sampai
pada keputusan terbaik dalam menerapkan hukum Allah atas manusia. Oleh karena
itu masyarakat dalam Islam sangat mulia, karena ia adalah perintah Allah, tidak
boleh bagi penguasa menghapusnya untuk memaksakan kekuasaannya pada manusia:
Dalam
Al-Qur’an Surah Asssyuura ayat 38:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang
menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian
dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Oleh
karena musyawarah dalam Islam bersumber dari Tuhan, maka pemimpin muslim yang
bertakwa tidak akan merasa gusar jika mendengar kritikan dari rakyat yang mana
saja, ia akan menerimanya dengan lapang dada dan menjawabnya dengan kebesarah
jiwa, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab kepada seorang wanita
yang membantahnya dalam masalah pembatasan Mahar: "Umar salah dan wanita
ini benar"
Pentingnya
masalah musyawarah dalam pandangan Islam sehingga satu di antara 114 surat
dalam Al-Qur’an bernama “Assyura” artinya musyawarah. Surat Assyura bersifat
Makkiyah artinya Surat ini diturunkan di Mekkah ketika kaum muslimin masih
merupakan kelompok minoritas di tengah-tengah kesombongan kaum musyrikin
Quraisy yang mayoritas.
Dengan
adanya musyawarah untuk mufakat yang terjalin dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, maka akan tercipta kehidupan yang aman, tentram dan
terjalinnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
